Indonesia adalah negara demokrasi. Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, memberikan kritik, bahkan menyampaikan ketidaksetujuan terhadap seorang tokoh maupun kebijakan pemerintah.
Namun, demokrasi juga membutuhkan etika, adab, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama anak bangsa.
Peristiwa aksi sejumlah orang yang datang ke kediaman mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan membawa berbagai spanduk bernada tudingan seperti “Jokowi perusak PDIP”, “Jokowi pengkhianat NKRI”, “Jokowi gila kekuasaan”, “Jokowi dinasti dan haus kuasa” dan berbagai tulisan lainnya, patut menjadi bahan renungan kita bersama.
Kritik adalah hak. Tetapi kita perlu bertanya: apakah kediaman pribadi seorang mantan Presiden merupakan tempat yang tepat untuk melampiaskan kemarahan politik?
Apalagi Joko Widodo bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul dalam perjalanan bangsa ini. Beliau pernah mendapatkan mandat rakyat sebagai Presiden Republik Indonesia selama dua periode. Selama masa kepemimpinannya, berbagai kebijakan dan pembangunan telah dirasakan masyarakat di berbagai daerah, meskipun tentu saja setiap pemerintahan memiliki kelebihan dan kekurangan.
Karena itu, apabila ada pihak yang tidak setuju dengan Joko Widodo, silakan menyampaikan kritik. Tetapi kritik hendaknya disampaikan melalui ruang demokrasi yang sehat, argumentasi yang jelas, dan cara-cara yang bermartabat.
Jangan sampai demokrasi berubah menjadi tindakan yang justru mempertontonkan permusuhan kepada sesama anak bangsa.
Jangan Bawa Konflik Politik ke Depan Pintu Rumah
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika aksi politik dilakukan di kediaman pribadi seseorang.
Rumah pada hakikatnya adalah tempat keluarga berkumpul, tempat seseorang beristirahat, dan tempat masyarakat dapat bersilaturahmi dengan cara yang baik.
Kita juga mengetahui bahwa banyak masyarakat selama ini datang ke kediaman Joko Widodo untuk bersilaturahmi, bersalaman, menyampaikan aspirasi, ataupun sekadar ingin bertemu dengan mantan Presiden mereka.
Maka, ketika ada sekelompok orang datang dengan membawa tudingan dan provokasi, sangat wajar apabila kemudian muncul reaksi dari masyarakat yang memiliki pandangan berbeda.
Dalam peristiwa tersebut, muncul pula suara emak-emak pendukung Jokowi yang menyanyikan “Jokowi hebat, Jokowi hebat.”
Bagi kami, kejadian itu seharusnya tidak dipandang sebagai pertarungan antara kelompok A melawan kelompok B.
Jangan sampai Indonesia kembali terjebak dalam politik saling berhadapan.
Kita sudah terlalu banyak menghabiskan energi untuk saling mencaci, saling menuduh, dan saling mencari kesalahan.
Kalau Ada Kritik, Sampaikan dengan Data
Media PROGIB Nusantara berpandangan bahwa kritik kepada siapa pun adalah bagian dari demokrasi.
Tetapi kritik akan jauh lebih bermartabat apabila disertai data, fakta, argumentasi, dan solusi.
Jika ada kebijakan Joko Widodo yang dianggap salah, jelaskan kebijakannya.
Jika ada dugaan pelanggaran, buktikan melalui mekanisme hukum.
Jika ada persoalan politik, gunakan ruang politik.
Jika ada persoalan hukum, gunakan jalur hukum.
Jangan menjadikan rumah pribadi sebagai panggung pertikaian politik.
Dan jangan pula memberikan label atau tuduhan yang dapat memancing kebencian tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita harus belajar membedakan antara kritik dengan penghinaan, kebebasan berpendapat dengan provokasi, serta demokrasi dengan tindakan yang berpotensi memecah persaudaraan.
Indonesia Maju 2045 Tidak Dibangun dengan Saling Menjatuhkan
Bangsa Indonesia memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar.
Kita sedang menuju cita-cita Indonesia Maju 2045.
Anak-anak muda membutuhkan pendidikan yang berkualitas. Pekerja membutuhkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan. Petani membutuhkan kepastian dan peningkatan produktivitas. Pelaku UMKM membutuhkan akses pasar. Infrastruktur harus terus diperbaiki. Teknologi harus dikembangkan. Industri nasional harus diperkuat.
Pertanyaannya:
Apakah energi bangsa akan kita habiskan untuk saling berteriak di depan rumah tokoh politik, atau kita gunakan untuk membangun masa depan Indonesia?
Kita tentu memilih yang kedua.
Indonesia membutuhkan masyarakat yang berani menyampaikan kritik, tetapi juga dewasa dalam berdemokrasi.
Indonesia membutuhkan pemuda yang berani berbeda pendapat, tetapi tetap menghormati orang lain.
Indonesia membutuhkan aktivis yang kritis, tetapi juga menawarkan solusi.
Dan Indonesia membutuhkan para pemimpin yang mampu merangkul, bukan terus-menerus mempertajam perbedaan.
Jangan Mundur Karena Perbedaan
Media PROGIB Nusantara mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan budaya saling menyerang secara berlebihan.
Boleh berbeda pilihan.
Boleh berbeda pandangan.
Boleh mengkritik.
Boleh tidak setuju.
Tetapi jangan kehilangan rasa persaudaraan sebagai sesama warga negara Indonesia.
Kita boleh tidak menyukai seorang tokoh politik, tetapi kita tetap harus menghormati sesama manusia.
Kita boleh mengkritik mantan Presiden Joko Widodo, tetapi kritik tersebut harus dilakukan secara beradab, objektif, dan bertanggung jawab.
Kita juga mengajak masyarakat yang mendukung Joko Widodo untuk tidak terpancing melakukan tindakan balasan yang dapat memperbesar konflik.
Jika ada provokasi, jawab dengan ketenangan.
Jika ada tuduhan, jawab dengan fakta.
Jika ada perbedaan, jawab dengan dialog.
Jangan dibalas dengan kebencian.
Karena kemenangan terbesar dalam demokrasi bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu tetap bersatu meskipun berbeda pandangan.
Pesan Pemimpin Redaksi Media PROGIB Nusantara
Mari kita tutup pintu bagi politik kebencian dan membuka ruang yang lebih luas bagi politik pembangunan.
Daripada datang membawa spanduk penuh kemarahan, lebih baik datang membawa gagasan.
Daripada saling meneriakkan tuduhan, lebih baik menyampaikan solusi.
Daripada menghabiskan energi untuk saling menjatuhkan, lebih baik kita bergandengan tangan membangun Indonesia.
Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.
Jangan jadikan demokrasi sebagai alasan untuk kehilangan adab.
Dan jangan biarkan Indonesia mundur hanya karena anak bangsanya sibuk saling bertengkar.
Mari kita rawat persatuan.
Mari kita hormati proses demokrasi.
Mari kita kedepankan hukum dan konstitusi.
Mari kita bangun Indonesia dengan kerja nyata.
Dari hari ini menuju Indonesia Maju 2045, Indonesia membutuhkan persatuan, bukan permusuhan.
Berbeda boleh. Bersatu harus.