SAMOSIR — Tidak semua perjalanan hidup dimulai dengan kemudahan. Ada yang harus tumbuh dalam keterbatasan, menghadapi kegagalan, meninggalkan kampung halaman, merantau jauh, dan membangun kembali kehidupan dari titik yang sederhana.
Namun, justru dari perjalanan panjang seperti itulah sering lahir sosok yang memiliki keteguhan dan pengalaman pengabdian yang mendalam.
Kisah Jonson Gultom adalah salah satunya.
Lahir pada Juli 1966 di Kecamatan Onanrunggu, wilayah yang pada masa itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara sebelum terbentuknya Kabupaten Samosir, Jonson tumbuh sebagai anak ketiga dari empat bersaudara laki-laki.
Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Kehidupan masa kecilnya tidak berlimpah dengan fasilitas. Tetapi satu hal yang terus ditanamkan dalam keluarganya adalah pentingnya pendidikan.
Bagi keluarga Jonson, pendidikan merupakan jalan untuk memperbaiki masa depan.
Dari lingkungan sederhana itulah karakter Jonson mulai terbentuk. Kerja keras, disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap pendidikan menjadi nilai yang kemudian menyertai hampir seluruh perjalanan hidupnya.
Tidak ada yang mungkin menyangka bahwa anak desa dari Onanrunggu tersebut kelak akan menempuh perjalanan ribuan kilometer, mengabdi sebagai guru di berbagai sekolah, memimpin sekolah terpencil, menduduki jabatan birokrasi pendidikan di Kalimantan Tengah, kemudian kembali ke tanah kelahirannya dan dipercaya memimpin sektor pendidikan Kabupaten Samosir.
Perjalanan itu tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Ada perjuangan panjang di dalamnya.
Dari Onanrunggu Menuju IKIP Medan
Semangat belajar membawa Jonson meninggalkan kampung halaman dan melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP Medan.
Di kota tersebut, ia mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendidik.
Pilihan menjadi guru bukan sekadar pilihan profesi. Bagi Jonson, pendidikan merupakan ruang pengabdian yang memungkinkan dirinya memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, ia kembali ke tanah kelahiran.
Jonson kemudian mengawali perjalanan sebagai guru di Yayasan Katolik Santo Mikael Samosir.
Di tempat tersebut, ia mengabdikan diri mendidik anak-anak. Seperti banyak guru pada masa itu, ia menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab sekaligus menyimpan harapan untuk dapat menjadi aparatur negara.
Namun, perjalanan menuju cita-cita tersebut ternyata tidak mudah.
Ketika Kegagalan Menjadi Titik Balik
Pada 1996, Jonson mengikuti seleksi pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.
Harapannya sederhana: menjadi seorang aparatur sipil negara dan mengabdikan diri lebih luas di bidang pendidikan.
Namun hasil seleksi belum berpihak kepadanya.
Jonson dinyatakan tidak lulus.
Kegagalan tersebut bukan satu-satunya tantangan.
Pihak yayasan tempatnya mengajar kemudian mengetahui bahwa Jonson mengikuti seleksi PNS. Situasi tersebut pada akhirnya membuat pengabdiannya di sekolah itu berakhir.
Bagi seseorang yang sedang membangun masa depan, kehilangan pekerjaan dan gagalnya sebuah cita-cita tentu bukan perkara kecil.
Tetapi Jonson memilih untuk tidak menyerah.
Ia tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.
Sebaliknya, kegagalan tersebut justru menjadi titik balik yang mengubah arah kehidupannya.
Setahun kemudian, pada 1997, Jonson mengambil keputusan besar.
Ia merantau ke Pulau Kalimantan.
Merantau dan Memulai Pengabdian dari Nol
Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Jonson Gultom.
Di tanah rantau itu, ia kembali memulai pengabdian sebagai tenaga pendidik honorer di tingkat sekolah menengah atas.
Status sebagai tenaga honorer tidak membuatnya mengurangi kualitas pengabdian.
Ia dikenal sebagai guru yang disiplin, tegas, dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan.
Bagi Jonson, sekolah bukan hanya tempat untuk menyampaikan materi pelajaran. Sekolah merupakan tempat membentuk karakter dan mempersiapkan anak-anak menghadapi kehidupan.
Selama kurang lebih 24 tahun mengabdi di Kalimantan Tengah, Jonson berpindah dan bertugas di berbagai sekolah.
Tidak kurang dari 12 sekolah menengah atas menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Di setiap sekolah, ia membawa prinsip yang sama: pendidikan harus dijalankan dengan disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan.
Ketegasan Jonson mungkin membuatnya dikenal sebagai sosok yang keras dalam menjalankan aturan.
Namun di balik ketegasan itu terdapat kepedulian terhadap masa depan peserta didik.
Ia percaya bahwa seorang guru tidak cukup hanya mengajar. Guru juga harus mampu menjadi contoh.
Delapan Jam Perjalanan Menuju Sekolah Terpencil
Salah satu fase paling kuat dalam perjalanan pengabdian Jonson terjadi pada 2017.
Ia dipercaya memimpin sebuah sekolah menengah atas yang berada di daerah terpencil dan berbatasan di Kalimantan Tengah.
Lokasi sekolah tersebut bukanlah tempat yang mudah dijangkau.
Perjalanan menuju sekolah dapat membutuhkan waktu hingga delapan jam dari tempat tinggalnya.
Namun tantangan geografis bukan satu-satunya persoalan.
Sekolah yang dipimpinnya masih sangat terbatas dari sisi tenaga pendidik.
Dalam kondisi tersebut, Jonson tidak hanya menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
Ia juga menjadi guru kelas dan guru mata pelajaran.
Bahkan, dalam praktiknya, ia menjadi pengajar utama bagi para peserta didik.
Sekolah tersebut memiliki sekitar 15 siswa dengan Jonson sebagai pengajar tunggal.
Di tengah keterbatasan itu, ia tetap menjalankan tugas.
Ia mengajar, mengelola sekolah, mendampingi siswa, serta berusaha memastikan proses pendidikan tetap berjalan.
Bagi Jonson, keterpencilan sebuah sekolah tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan.
Prinsip tersebut membuatnya bertahan.
Dari 15 Siswa, Menjangkau Masyarakat
Pengabdian Jonson di daerah terpencil tidak berhenti pada 15 siswa yang ada di sekolah.
Ia melihat persoalan yang lebih luas.
Di sekitar sekolah masih terdapat masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah.
Jonson kemudian melakukan pendataan dan mendorong masyarakat untuk mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa bagi dirinya, pendidikan tidak mengenal batas usia.
Delapan orang warga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan kesetaraan.
Yang lebih membanggakan, setelah memperoleh pendidikan tersebut, sebagian dari mereka kemudian dapat mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik dan memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengakuan melalui jalur honorer maupun PPPK.
Di sinilah makna pengabdian seorang guru terlihat lebih luas.
Jonson bukan hanya mengajar murid di dalam kelas.
Ia ikut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan kembali hak pendidikannya.
Ia tidak hanya membangun sekolah.
Ia ikut membangun manusia.
Ketika Masyarakat Berdiri di Belakang Gurunya
Pengabdian yang dilakukan selama bertahun-tahun akhirnya meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.
Ketika terjadi pergantian kepemimpinan sekolah melalui kebijakan pemerintah provinsi, masyarakat yang telah merasakan manfaat kehadiran Jonson menunjukkan dukungan kepadanya.
Aspirasi masyarakat menjadi salah satu gambaran bahwa hubungan antara seorang pendidik dan masyarakat dapat melampaui batas formal sebuah jabatan.
Masyarakat mengenal Jonson bukan semata karena posisinya sebagai kepala sekolah.
Mereka mengenalnya karena kehadiran dan kerja nyata.
Di tengah keterbatasan daerah terpencil, seorang guru yang bersedia datang, mengajar, mendampingi masyarakat, dan bertahan dalam kondisi sulit tentu meninggalkan kesan tersendiri.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Jonson menuju dunia birokrasi pendidikan.
Dari Guru Honorer hingga Memimpin Pendidikan
Pengalaman panjang sebagai pendidik dan kepala sekolah membuka jalan bagi Jonson untuk memasuki struktur birokrasi pendidikan.
Ia kemudian dipercaya menduduki jabatan sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan di Palangka Raya.
Kariernya terus berkembang.
Pada 2019, Jonson dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.
Jabatan tersebut diembannya hingga 2022.
Perjalanan dari seorang guru honorer hingga dipercaya memimpin sektor pendidikan di sebuah kota merupakan proses panjang.
Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan.
Di balik jabatan tersebut terdapat pengalaman mengajar di banyak sekolah, menghadapi keterbatasan pendidikan, memimpin sekolah terpencil, membina masyarakat, serta melewati berbagai tantangan selama puluhan tahun.
Bagi Jonson, birokrasi pendidikan bukanlah akhir dari pengabdian sebagai guru.
Sebaliknya, jabatan tersebut memberikan ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan peningkatan kualitas pendidikan.
Panggilan untuk Pulang
Setelah lebih dari dua dekade mengabdi di Kalimantan Tengah, perjalanan Jonson akhirnya kembali menuju titik awal.
Tanah kelahiran memanggil.
Pada 2022, Jonson Gultom kembali ke Samosir.
Putra daerah yang telah memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan dan birokrasi tersebut kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Samosir.
Kepulangannya bukan sekadar perpindahan tempat tugas.
Ia pulang membawa pengalaman.
Ia pulang membawa pengetahuan.
Ia pulang membawa cerita tentang bagaimana pendidikan harus diperjuangkan bahkan di daerah yang sulit dijangkau.
Pengalaman panjang di Kalimantan Tengah menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdian di Bona Pasogit.
Selama memimpin sektor pendidikan di Samosir, berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan, pembinaan guru, pelayanan pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia terus menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Bagi seorang putra daerah, kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun mengabdi di luar daerah memiliki makna tersendiri.
Ada kebanggaan.
Ada tanggung jawab.
Dan ada harapan untuk memberikan kembali apa yang telah diperoleh selama perjalanan hidup.
Enam Puluh Tahun dan Akhir Sebuah Siklus Pengabdian
Juli 2026 menjadi momentum penting dalam kehidupan Jonson Gultom.
Ia genap berusia 60 tahun.
Pada usia tersebut, perjalanan panjangnya sebagai Aparatur Sipil Negara juga memasuki fase purna tugas.
Jika perjalanan hidupnya dirangkai dalam satu garis panjang, maka terlihat sebuah siklus yang menarik.
Ia memulai kehidupan di Samosir.
Berangkat menuntut ilmu ke Medan.
Kembali menjadi guru di tanah kelahiran.
Menghadapi kegagalan.
Merantau ke Kalimantan.
Menjadi guru honorer.
Mengabdi di berbagai sekolah.
Memimpin sekolah terpencil.
Mendampingi masyarakat.
Menjadi birokrat pendidikan.
Memimpin Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.
Dan akhirnya kembali ke Samosir untuk memimpin pendidikan di tanah kelahirannya.
Dari Samosir ke Kalimantan.
Dari Kalimantan kembali ke Samosir.
Sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang karier, tetapi juga tentang pengabdian.
Jabatan Berakhir, Pengabdian Tidak Berakhir
Bagi Jonson Gultom, masa purna tugas bukan berarti berakhirnya hubungan dengan dunia pendidikan.
Jabatan memiliki batas waktu.
Tetapi pengabdian tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan meja birokrasi.
Jejak seorang guru justru dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa jabatannya.
Ada siswa yang pernah dididik.
Ada guru yang pernah dibina.
Ada sekolah yang pernah dipimpin.
Ada masyarakat yang pernah didampingi.
Ada generasi yang kemudian tumbuh dan melanjutkan kehidupan dengan bekal pendidikan yang pernah diberikan.
Itulah bentuk pengabdian yang tidak tercatat hanya dalam dokumen kepegawaian.
Warisan Terbesar Adalah Manusia
Perjalanan Jonson Gultom memperlihatkan satu hal penting: keberhasilan seorang pendidik tidak selalu dapat diukur dari gedung sekolah yang berdiri megah atau angka-angka administratif.
Warisan terbesar seorang guru adalah manusia.
Murid yang tumbuh menjadi orang baik.
Guru yang berkembang menjadi pendidik yang lebih baik.
Masyarakat yang kembali mendapatkan kesempatan belajar.
Sekolah yang tetap hidup meskipun pernah dibangun dalam keterbatasan.
Dalam perjalanan tersebut, Jonson pernah berada di banyak posisi.
Namun identitas yang paling melekat adalah sebagai pendidik.
Seorang guru yang percaya bahwa disiplin penting.
Seorang guru yang percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Dan seorang guru yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan.
Dari Anak Desa untuk Tanah Kelahiran
Enam puluh tahun perjalanan hidup Jonson Gultom menjadi gambaran bahwa seseorang tidak harus lahir dalam keadaan serba berkecukupan untuk memberikan sesuatu yang besar bagi masyarakat.
Seorang anak desa dapat memiliki mimpi.
Seorang guru honorer dapat berkembang menjadi pemimpin pendidikan.
Seorang perantau dapat membangun pendidikan di tanah orang lain.
Dan seorang putra daerah dapat kembali membawa pengalaman untuk membangun tanah kelahirannya.
Kisah Jonson juga memberikan pesan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan.
Kegagalan seleksi PNS pada 1996 justru menjadi pintu menuju perjalanan panjang yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Jika saat itu ia memilih berhenti, mungkin cerita hidupnya akan berbeda.
Tetapi ia memilih melangkah.
Dan langkah itu membawanya jauh.
Kini, setelah enam puluh tahun perjalanan, waktunya memasuki babak baru.
Bukan lagi tentang mengejar jabatan.
Bukan lagi tentang mengejar karier.
Melainkan tentang menikmati hasil dari perjalanan panjang sebuah pengabdian.
Selamat Memasuki Masa Purna Tugas
Jonson Gultom telah melewati perjalanan yang panjang.
Dari seorang anak desa di Onanrunggu, ia tumbuh menjadi seorang pendidik.
Dari guru, ia menjadi kepala sekolah.
Dari sekolah terpencil, ia masuk ke birokrasi pendidikan.
Dari birokrasi, ia dipercaya memimpin pendidikan di Palangka Raya.
Dan dari tanah rantau, ia kembali ke Samosir untuk mengabdikan diri kepada kampung halaman.
Enam puluh tahun bukan sekadar usia.
Enam puluh tahun adalah kumpulan pengalaman, perjuangan, kegagalan, keberhasilan, pengorbanan, dan pengabdian.
Jabatan mungkin akan berakhir.
Namun nama seorang guru akan tetap hidup dalam ingatan murid-muridnya.
Sekolah boleh berganti kepemimpinan.
Tetapi nilai yang pernah ditanamkan seorang pendidik dapat terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Selamat memasuki masa purna tugas, Bapak Jonson Gultom.
Terima kasih atas perjalanan panjang dalam dunia pendidikan.
Terima kasih telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Terima kasih telah membuktikan bahwa kegagalan dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar.
Dan terima kasih telah kembali ke tanah kelahiran untuk memberikan pengalaman serta pengabdian terbaik bagi Samosir.
Dari Onanrunggu untuk Indonesia.
Dari Samosir ke Kalimantan, lalu kembali ke Bona Pasogit.
Enam puluh tahun perjalanan.
Enam puluh tahun pengabdian.
Dan pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah jabatan yang pernah diduduki, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan bagi generasi penerus.